Posted in Miscellaneous

Permainan Seru dengan Keluarga, Dulu dan Kini

Tema arisan kali ini kedengarannya sederhana, tapi ketika dipikirkan ternyata susah juga. Haha.. Mungkin karena keluarga kami jarang main yang seru-seru gitu. Tapi arisan tetaplah arisan yang harus dituliskan, sekaligus nambah-nambah postingan di blog. Wkwk..

Bicara mengenai permainan, yang terlintas langsung adalah Thole. Ya, karena dia yang masih cilik dan gemar sekali main. Apalagi main di luar rumah, beuuhh, ga usah ditanya lagi girangnya. Tapi kalau main di dalam rumah, ada beberapa permainan yang Thole heboh banget kalau lagi main. Pertama adalah main lari-larian. Hufff.. Baru menuliskannya aja dah kebayang ngos-ngosannya. #emaklebay

Thole nih seneng banget diajak lari-larian, kejar-kejaran di dalam rumah. Walaupun rumah kami tak luas kali, tapi kalau bolak-balik terus kan lumayan bikin capek juga toh. But, seriously, si bocil seneng banget, dia lari sambil ketawa-tawa. Kadang-kadang sampai jatoh-jatoh larinya, tapi tetep happy. Biasanya emak atau bapaknya yang duluan nyerah karena gempor. Wkwk..

Selain lari-larian, permainan yang melibatkan Thole dan emak atau bapaknya yaitu main kuda-kudaan.

Ya, Thole nih ngga bisa lihat orang tengkurep, langsung lah dia naik aja gitu. Mending kalau cuma duduk aja, lha ini sambil lompat-lompat. Alamaakk.. Tulang-tulang mamak ini bisa pada kretek-kretek semua. Biasanya sih Thole main kuda-kudaan sama bapaknya karena bapaknya kan kuat lah kalau dinaikin Thole sambil lompat-lompat. Asal ngga heboh-heboh banget lompatnya. Wkwk..

Nah, lain dulu lain sekarang. Kalau sewaktu kecil, saya dan kakak saya gemar sekali main seluncuran di lantai. Gimana caranya? Ya lantainya harus dibuat licin, dengan cara menaburkan serbuk kapur yang buanyaak.. Haha.. Seneng banget kalo main ino. Tapi pas ketahuan papi, langsung lah kami dimarahi. Terutama kakak saya siy yang kena. Hehe.

Selain itu, kami juga senang main pretend play alias pura-pura. Pura-pura ada banjir, dan ada buaya. And somehow, saya yang selalu jadi buayanya. Walaupun ada adik saya, tetep saya yang jadi buaya. Bahkan sampai sekarang, kalau ada kata-kata buaya, pasti langsung saya yang ditunjuk. Contoh kasus baru-baru ini:

Saya: “Eh, kata berita di ancol ada buaya.”

Kakak: “Buaya? Elu dong. Haha.”

Demikian secuil kisah main-main di keluarga kami yang jarang main ini. Semoga menghibur.

Advertisements

Author:

Anak, kakak, adik, istri, ibu, yang berusaha untuk tak berputus asa. "And if you would count the graces of Allah, never could you be able to count them." -Q.S. Ibrahim 14:34-