Posted in Arisan Tulisan, Miscellaneous

Temanku yang Baik Hati, Mba Unna

Arisan tulisan Rumbel Nulis IP Batam kali ini mengajak saya untuk ngomongin orang. Siapakah dia? Dialah Mba Unna, seorang kawan yang akan meninggalkan Batam dan tinggal di Surabaya.

So, before she goes to the new city, I wanna write some things about her.

Kenapa? Karena, walaupun saya tidak terlalu akrab dengan beliau, Mba Unna punya tempat spesial di hati saya. Mba Unna lah yang memberi saya buku Abah Ihsan saat saya belum tau sama sekali siapa Abah Ihsan (wkwk). Mba Unna juga yang menghibahkan sebuah baju baru nan cantik yang akhirnya saya hibahkan lagi pada mertua, dan alhamdulillah mertua suka.

Lho, katanya ga akrab, tapi kok dikasih buku dan baju? Itulah Mba Unna, baik budi sekali kawanku satu ini. Hehe..

So, yuk kenal lebih jauh!

Ibu yang bernama lengkap Lubnah Lukman ini pertama kali saya kenal secara online di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch 4. Beliau adalah ketua kelas kala itu. Kemudian lebih mengenal lagi setelah lulus kelas matrikulasi, masih di dunia maya, tepatnya di WAG member IP Batam.

Saat itu ada sebuah sesi perkenalan, dan gilirannya Mba Unna memperkenalkan diri. Dari sanalah saya tau, Mba Unna ini ternyata lulusan S2, asal Makassar, dan sudah memiliki dua anak.

Beliau aktif di kampus, berjiwa pemimpin, dan hardworker. Namun demikian, Mba Unna memilih menjadi ibu rumah tangga, mendidik dan menemani kedua buah hatinya. Wow, batin saya. Dengan segudang prestasi, ibu satu ini mau, rela, menjadi ibu rumah tangga.

Muncul rasa penasaran dalam hati saya, yang akhirnya saya tanyakan di sesi tanya jawab. “Impian apa yang dulu Mba Unna sangat inginkan, tapi sekarang harus direlakan?” kurang lebih seperti itulah pertanyaan saya.

Mengapa saya menanyakan itu? Karena saya meyakini, Mba Unna pasti punya impian tinggi untuk pribadinya, sebelum menikah dan punya anak. Rupanya benar. Mba Unna ingin sekali sekolah di luar negeri, dan hal itu saya rasa wajar, dan sebenarnya sangat bisa dicapai oleh Mba Unna.

Akan tetapi beliau memilih sebuah karier yang sangat mulia, yaitu menjadi ibu rumah tangga. Memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya, untuk keluarganya. Aih, saya jadi terinspirasi. Pasalnya, saya sendiri belum bisa ikhlas rasanya menjalani peran ini. Huhuu..

Lewat pertanyaan itulah saya mendapat hadiah berupa buku dan baju dari Mba Unna. Baik banget kan? Hehe..

Sebentar lagi Mba Unna akan pindah ke Surabaya, akan ada yang hilang dari suasana kopdar Rumbel Nulis. Ada yang tak lengkap di setiap acara IP Batam. Tapi saya yakin, di Surabaya nanti Mba Unna bisa lebih bahagia, lebih bisa berkarya, lebih bisa menyalurkan ide brilian dan semangatnya. Membayangkan apa yang bisa Mba Unna capai di sana, saya pun ikut bahagia.

Senang, bisa mengenal sosok Mba Unna, yang selalu tersenyum, ceria, banyak ide, dan mandiri. Seorang wanita tangguh walaupun banyak gejolak dalam kehidupan. Semoga senyuman dan semangat itu selalu ada dalam diri Mba Unna, di mana pun Mba Unna tinggal.

Advertisements
Posted in Arisan Tulisan, Miscellaneous

Hobi yang Tertinggal

Mari flashback ke masa lampau. Jauh sebelum ada Thole, sebelum menikah. Kala itu, ada sebuah hobi yang saya tekuni dengan hati senang dan badan pegal, yaitu sepedaan.

Sejak kecil saya senang sekali main sepeda. Di usia kira-kira enam atau tujuh tahun, saya telah lancar mengendarai sepeda roda dua ukuran dewasa. Saya dan teman-teman geng sekitar rumah sering main sepeda bareng, terutama sore hari. Tak jarang saya bergantian boncengan dengan teman-teman. Ah, menyenangkan sekali. Menikmati angin sore, bermain, sekaligus olahraga. Bagus untuk kesehatan, itulah yang saya sukai dari hobi ini.

Beranjak dewasa, kira-kira saat SMA, saya mulai jarang main sepeda, karena mulai merasa malu. Entah kenapa saat itu main sepeda terkesan hanya untuk anak-anak. Teman-teman saya pun tak ada lagi yang sepedaan. Saya hanya menggunakan sepeda untuk ke rumah teman, atau muter-muter saat suntuk.

Nah, titik balik terjadi ketika saya di bangku kuliah. Tren sepedaan kembali subur di kalangan anak-anak sampai dewasa. Saya pun bergabung dengan KosKas (Komunitas Sepeda Kaskus). Kegiatan sepedaan jadi makin menyenangkan karena ramai, banyak teman. Dari sana, saya mulai terbiasa bersepeda jarak jauh. Kegiatan kami biasanya di weekend. Kumpul di dekat FX, kemudian bersepeda ramai-ramai. Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi bersama KosKas diantaranya acara Palang Pintu di Kemang, funbike ke Ancol, dan makan-makan di dekat Harmoni. Yang paling berkesan adalah fun bike ke Ancol. Itu adalah rekor terjauh saya sepedaan, Bintaro – Ancol. Pulangnya nebeng mobil sampai Blok M, dan lanjut sepedaan ke rumah. Tepar seketika.

Namun waktu berjalan, meninggalkan puncak kejayaan sepedaan. Saya pun harus pindah ke Sukabumi untuk bekerja, dan sepedaan kembali ditinggalkan. Di Sukabumi tetap sepedaan, sesekali, dan hanya jarak dekat.

Sekarang, sepeda yang dulu biasa saya pakai pun telah dijual. Saya pun sudah pindah ke Batam. Tak ada lagi sepeda. Ah, jadi rindu juga. Rindu mengayuh dibanjiri peluh, menyapa angin yang berlalu, terik pun tetap dilaju. Kapan ya sepedaan lagi? 🙂

Posted in Arisan Tulisan

Yang Tersisa dari Liburan

Ada yang belum move on dari nuansa liburan. Ya, saya.

Liburan

Sebulan lebih ngumpul dengan keluarga dan teman-teman di Jakarta, ditambah lagi ortu sempat ikut ke sini dan nginep seminggu, membuat hati ini makin susaahh move on dari liburan. Yang tersisa justru keinginan untuk balik ke Jakarta lagi dan lagi..haha..

Tapi tentu saja ini harus dilawan. Liburan baru berkesan setelah sibuk bekerja. Sekarang saatnya kembali ‘bekerja’. Kembali main-main dengan si bocah lucu, kembali masak, kembali beberes, dan lain-lain. Alhamdulillah, pekerjaan ini sebenarnya menyenangkan (kecuali memasak!), dan yang lebih menyenangkan lagi adalah kembali berkumpul dengan suami.

Selain itu, supaya makin enjoy dan cepat move on, saya juga jadi sering nenangga, alias main ke rumah tetangga. Karena teman ngobrol adalah faktor penting untuk move on. Thole pun senang karena ada teman main dan ngga bosen di rumah aja..hehe..

Posted in Arisan Tulisan, Makan-makan

Resep Masakan Favorit Keluarga, Mitos atau Fakta?*

“Resep masakan favorit keluarga” adalah sebuah topik obrolan yang nyaris tabu di keluarga kecil kami. Apa pasal? Pasalnya, Mama Thole ini ga senang masak. Titik.

Eh, tapi karena tantangan arisan kali ini dari koki andal kita adalah tentang resep masakan, jadi mau tak mau, akan saya bagikan salah satu resep masakan yang pernah saya masak. Here we go.

Onion Ring

Bahan

  • Bawang bombay
  • Tepung bumbu
  • Telur ayam

Cara membuat

  1. Kocok telur, sisihkan
  2. Potong bawang bombay sehingga berbentuk melingkar
  3. Masukkan lembar per lembar potongan bawang ke tepung, kemudian ke telur, dan ke tepung lagi
  4. Goreng deep fried bawang yang telah dilumuri tepung dengan api kecil
  5. Tunggu sampai kecoklatan. Angkat.

Tadaaaa.. Jadilah onion ring!

Selamat mencoba! 🤗

*Harap maafkan judul yang ngawur ini

Posted in Arisan Tulisan, Miscellaneous

“Kena, deh!”

“Kena, deh!” adalah sebuah acara komedi/reality show yang dulu pernah tayang di TV. Dalam acara tersebut, kamera rahasia sengaja diletakkan untuk merekam respon orang-orang yang akan dikerjain. Nah, kurang lebih seperti itulah yang terjadi.

Jadi, ceritanya, suami saya adalah orang yang sebenarnya humoris dan senang bercanda. Suatu hari, di rumah, ia pun membuat suara-suara lucu nan menggemaskan (hahaha). Tanpa sepengetahuannya, saya memulai tombol rekam di handphone sambil terus memancing agar dia melanjutkan tingkah lucunya itu.

“Yeeyy, dari tadi aku rekam..!hahaha..” sorak saya ketika tak mampu lagi menahan tawa. Dia pun seketika malu dan ikut tertawa ketika mendengar hasil rekamannya..hahaha..